*Published in Jalan Jalan Magazine *Photos by Irfan Yusuf
Ada yang berbeda pada paras Yogyakarta. Banjir pelancong, mahasiswa pendatang, dan sejumlah mal sedikit-banyak telah mengusik pesonanya. Alvia Zuhadmono dan Irfan Yusuf pergi ke Kota Gudeg, berbicara dengan para seniman, dan berkunjung ke sanggar-sanggar seni guna menemukan kembali wajah sejati kota yang sarat budaya ini.
Seorang teman dari Hongaria pernah bertanya dimana ia bisa menemui wajah Yogyakarta yang sebenarnya. Saya bingung apa yang ia maksud dengan “wajah Yogya sebenarnya.” Ia menilai pertunjukan seni di Keraton atau Sendratari Ramayana di Prambanan terlalu artifisial, dipentaskan untuk tujuan komersial. Ia ingin melihat sesuatu yang tidak sengaja “dipertunjukkan”, sesuatu yang muncul dari hati, jujur, dan spontan. Pertanyaan tersebut menggelitik.

Saya pun pergi ke Yogyakarta, mengembara di kota kelahiran saya sendiri, mencoba menjawab pertanyaan kawan saya tadi. Saya palingkan wajah dari Kraton, Tamansari, dan tempat-tempat touristy lainnya, lalu pergi mengunjungi para seniman dan sanggar-sanggar mereka sembari berharap bisa menemui sesuatu yang tidak dibuat-buat, suatu bentuk asli berkesenian di ranah Yogya.
Usai menyeruput teh hangat, saya arahkan kendaraan menuju daerah Bantul. Siang itu awan kelabu menggantang. Agenda pertama saya adalah mengunjungi episentrum seni Yogya, Padepokan Seni Bagong Kussudiardja. Almarhum Bagong bak tokoh epos di jagat seni Indonesia. Wujud kreativitasnya di bidang seni tari membuahkan ledakan-ledakan karya yang tak hanya impresif di zamannya, namun juga di generasi setelahnya. Tak mau egois, Bagong membuka sebuah wahana untuk para seniman di rumah singgahnya yang lalu dinamakan ‘padepokan’. Di tempat ini pula lahir dua penggiat seni kenamaan yang sekaligus anak kandungnya, Djaduk Ferianto dan raja monolog Butet Kartaredjasa.
Aroma seni menusuk hidung saat saya memasuki pelataran padepokan. Udara di sekitar bangunan seolah dipenuhi oleh partikel-partikel gagasan yang siap untuk dituangkan ke dalam berbagai media. Heru Kesawa Murti, pemain teater, penulis, sekaligus pengelola Yayasan Bagong Kussudiardja (YBK) menyambut saya di ruang tamu sederhana yang disesaki perabot tua.
“Padepokan Bagong adalah sebuah kegelisahan yang dimonumenkan. Sebagai seniman, Bagong ingin bersentuhan langsung dengan masyarakat, dengan sumber ilhamnya. Tahun 1978 ia mengejawantahkan gundahnya dalam wujud sebuah bangunan beratap rumbia dan berdinding bambu. Di petak penuh romantisme itulah ia bergesekan langsung dengan masyarakat yang ingin berkesenian tanpa sekat atribut sosial,” urai Heru yang baru saja merampungkan gelaran teater Gandrik.
Di dalam ruangan bercat merah, Heru menuturkan, padepokan Bagong ingin menularkan energi kreatif kepada siapa saja, termasuk para turis asing. Tempat ini juga menyewakan kamar-kamar jikalau ada yang hendak singgah untuk belajar seni. “Banyak orang rantau datang untuk ‘nyantri’ disini,” jelasnya.
Di musim libur sekolah, YBK mempunyai program khusus anak-anak yang ingin berkenalan dengan dunia seni. Sementara sebulan sekali ia menggelar Jagongan Wagen, sebuah diskusi terbuka untuk publik yang tak jarang meretas gagasan-gagasan cemerlang. Dinding-dinding padepokan ini menyimpan bergulung-gulung perkamen dialog seni selama lebih dari tiga dekade.
Pohon-pohon jangkung yang memayungi tanah YBK menjadikan kawasan ini asri dan teduh. Di sore hari seringkali terdengar gending langgam Jawa mengisi udara padepokan. Di studio yang didesain bak pendopo, para penari tampak melentikkan ujung-ujung jari mereka dengan khidmat. Pendopo lapang ini mampu menampung 500 orang, dan siapa saja boleh masuk, gratis.
Padepokan ini adalah salah satu potret seni di Yogya yang tidak komersial. Seniman dari pelosok Nusantara, Jepang, Malaysia, Korea, dan negara-negara Eropa bergumul di padepokan ini saling mengasah kreativitas. Atmosfer sosial di Kota Gudeg ini terlihat masih menghalalkan kata gotong-royong tanpa pamrih, seperti belajar berkesenian tanpa terbebani biaya ini dan itu. Iklim nirlaba inilah yang membuat gairah seni tumbuh subur. Padepokan Bagong saja telah berlayar selama tiga puluh tahun, melebihi umur saya.
Tanah Bantul yang saat ini saya pijak punya pemandangan khas: para pekerja berduyun-duyun mengayuh sepeda onthel menuju kota di waktu subuh, kemudian pulang saat mentari tenggelam. Sampai-sampai muncul guyonan: mudah sekali mengenali orang Bantul, lihat saja pipinya, jika pipi kanannya lebih hitam dari pipi sisi satunya, sudah pasti ia orang Bantul. Saya belum pernah membuktikannya.
Saat ini Bantul merupakan rumah dari desa seni dan pusat kerajinan. Warganya yang ulet telah berhasil memendam tragedi gempa bumi tiga tahun silam. Desa wisata Krebet yang berjarak hanya beberapa galah dari padepokan Bagong merupakan tempat pembuatan wayang kayu berhias batik. Produk unik ini diminati oleh wisatawan lokal maupun asing, termasuk dari Timur Tengah dan Eropa. Sore itu saya sempat melihat beberapa wisatawan asing menikmati suasana bersahaja di Krebet.
SORE BELUM BEGITU TUA, saya menimbang tujuan saya selanjutnya. Saya putuskan untuk mengunjungi seorang seniman lain yang tinggal sepuluh menit arah utara padepokan Bagong. Saya menuju Sangkring Art Space, sebuah galeri seni milik seniman asli Bali yang terjerat pesona Yogya, Putu Sutawijaya.
Dalam perjalanan, mata saya bagai diguyur butiran-butiran air segar di pagi hari. Sawah-sawah hijau menggawangi kedua sisi jalan beraspal kasar. Sementara anak-anak kecil asyik mengayuh sepeda, bergerombol, dan tertawa riang. Suguhan mahal buat mata saya yang setiap harinya memandangi bangunan-bangunan kubus di Jakarta.
Sangkring Art Space berada disisi kanan jalan. Bangunan berlantai tiga ini wajahnya terlihat polos tanpa polesan cat. Di kanan-kiri pintu masuk galeri yang terbuat dari kayu tertanam dua pohon besar sebagai pengganti patung selamat dating.saya mendapati putu berdiri di bibir pintu galeri, terlihat kaget melihat saya datang menemuinya. Ini kali kedua kami bertemu.
Gaya putu masih begitu-begitu saja: mengenakan kaus dan celana belel, ditambah trademark rambut berkuncir, tak terlihat seperti seniman yang karyanya dihargai miliaran rupiah. Dibawanya saya ke bengkel seni di area basement. Puluhan lukisan tergeletak di ruangan persegi panjang. Cat dan kuas berceceran diatas lantai semen berwarna abu-abu. Lukisan setengah jadi Putu tampak mendominasi pandangan saya sore ini. Kali ini lukisannya bercerita tentang olahraga, dari bersepeda hingga bermain tennis.
Meski asli bali, putu memilih tinggal di yogya, ia memaknai kota ini sebagai wilayah ideal. “Rasa-rasanya kalau di Yogya semuanya jadi cair, tak ada sekat dan pengkotak-kotakan,” katanya. Ia lalu bertutur tentang rekan-rekan seniman lain yang tinggal di Yogya dengan latar majemuk, tapi bisa melebur tanpa sentimen. Ia melihat ada kecenderungan para pendatang yang tinggal di Yogya pada akhirnya akan mengikuti ritme kultur kota ini yang kalem, seperti yang terjadi pada dirinya sendiri.

Memang jika dihadapkan dengan iklim Bali, Yogya lebih down to earth. Kontaminasi industri pariwisata tak sepekat di Pulau Dewata. Merasa berutang dengan tempat yang memberikannya kepuasan intelektual dan batin, Putu lalu membangun sebuah galeri seni yang didedikasikan untuk masyarakat umum. Siapa saja boleh menggunakannya, kecuali dirinya sendiri. Misinya adalah balas budi, bukan unjuk diri, apalagi cari uang. Sore ini, dinding-dinding beton Sangkring dihiasi bermacam lukisan bercat akrilik karya anak-anak TK.
SAYA TINGGALKAN kawasan bantul ketika langit berwarna pucat. Dari balik jendela mobil saya melihat perempuan-perempuan setengah baya mengayuh sepeda onthel bermuatan tembikar di sadel belakang, pemandangan sederhana yang manis, kontras dengan jalan-jalan ditengah kota yang bising dan terkontaminasi oleh deru knalpot kendaraan.
Di beberapa sudut kota, saya melihat mural-mural yang mengundang senyum. Mural di yogya memang menjadi rekreasi mata tersendiri. Ruang-ruang yang tadinya kosong disulap jadi segar. Seni lukis tembok ini adalah gagasan Samuel indratma, seniman perupa Yogyakarta sekaligus pendiri apotik komik. Ia mengembangkan seni yang dijuluki “low art” melalui mural, graffiti dan komik, menggunakan ruang-ruang public sebagai medianya.
Mural ini kadang dijadikan arena protes social. Kerap muncul sentilan-sentilan lucu seperti “urip soyo susah” (hidup semakin susah) yang dituangkan dalam warna-warna ceria. Tak ada demontrasi ataupun sensor terhadap tulisan-tulisan bernada kritik ini. Goresan mural dengan ukuran massif bias ditemui dibawah flyover jalan lempuyangan atau di stadion kridosono. Seni yang merakyat, membumi dan accessible.
Saya parkir kendaraan saya di tepi jalanan tirtodipuran yang dipenuhi galeri seni dan batik. Banyak turis asing berlalu-lalang disini. Tujuan saya adalah menyambangi Kedai Kebun, sebuah ruang seni alternatif yang dikelola secara independent oleh sejumlah seniman. Ini kunjungan saya yang pertama, padahal rumah saya hanya berjarak lima menit dari sini.
Kedai kebun memiliki galeri yang berbentuk segi empat, sebuah ruang pertunjukan, toko buku dan restoran. Di bangunannya yang berlantai dua juga hidup Kedai kebun Forum, sebuah komunitas yang dibangun untuk mengasah kepekaan terhadap gejala perubahan social melalui kesenian. Ruangan-ruangan di Kedai kebun cenderung sempit dan bersekat ringkih, namun berhasil difungsikan maksimun oleh para seniman.
Bau nasi goreng menusuk hidung saat saya menyelami aneka karya di area galeri. Tak lama blender berbunyi ketika mata saya terhujam pada salah satu karya Agung kurniawan yang tertempel di dinding putih. Ia memakai materi besi yang “diuntir-untir” hingga membentuk wujud sebuah mobil, sungguh unik.
Saya menembus ke bagian belakang bangunan melalui pintu tak berdaun. Bangku-bangku kayu terisi beberapa orang yang sibuk dengan laptop. Tempat ini menyediakan koneksi internet nirkabel gratis. Sementara di sisi lain rentetan buku dipajang, diantaranya koleksi Pramoedya Ananta Toer. Saya berbelok kearah restoran lalu duduk di bangku kayu berbahan rotan. Pohon-pohon besar memayungi bangunan ini dengan sempurna. Suasananya sejuk dan asri.
Saya melihat turis asing datang dan pergi. Di sudut lain, beberapa orang bergerombol sedang mendiskusikan sesuatu. Mereka menggelar kertas lebar dengan beberapa coretan di atasnya. Kata pramusaji yang mengantar ice lemon tea, ini pemandangan sehari-hari di kedai kebun. Banyak orang menetaskan ide diantara asap-asap rokok yang mengepul. Dibalut kesejukan, saya pun merasa betah duduk di kedai kebun. Apalagi makanan disini harganya bersahabat dengan kantong, rata-rata Rp 20 ribu. Saya tinggal untuk beberapa saat hingga bintang muncul dari balik dedaunan. Malam telah larut.
DAGELAN KHAS YOGYA BAK MORFIN yang mampu membebaskan penat dan stress. Menurut saya dagelan yogya adalah yang paling “ndagel”. Dan pewarta humor tak melulu harus melawak, di yogya, kaos pun bias mengundang tawa. Utak-atik bahasa disini melahirkan bahasa plesetan dan walikan yang mengambil pola dari aksara jawa. Bahasa prokem nan kocak ini kemudian dipopulerkan oleh beberapa mahasiswa arsitektur universitas gadjah mada lewat Dagadu Djokja, perusahaan kaos yang terkenal lincah bermain kata. Bisnis kaos Dagadu meledak pada awal 90an, hingga pembeli kadang harus rela mengantre berjam-jam di mall guna mendapatkannya. Bagi turis, kaos ini juga menjadi alternative oleh-oleh selain batik, bakpia atau gudeg. Gerai dagadu diberi nama UGD kepanjangan dari Unid Gawat Dagadu.
Dagadu menjajakan kaos yang memuat bermacam tulisan nyeleneh. Contohnya “Obat Ngamuk” dan “United Colours of Keraton”. Merek ini begitu popular hingga versi bajakannya pun beredar bebas di sepanjang Malioboro dan beberapa pasar di Yogya. Meski begitu, sang pemilik merek agaknya merasa legawa jika memang bisnis kaos bajakan bisa membawa manfaat bagi masyarakat. Saya tersenyum mendengar alas an yang mulia dan tak wajar itu.
Juga pandai berakrobat dengan kata-kata adalah Kelik Pelipur Lara, mantan Wakil Presiden Republik BBM (Benar Benar Mabok). Menurutnya, karakter masyarakat yogya yang tidak matre harus selalu dijaga. “Di Yogya, ide seperti udara, bisa ditemui dimana saja, bahkan obrolan dengan petani di depan rumah juga inspiratif. Di Jakarta, hidup itu seperti taksi, begitu pintu dibuka, argo jalan. Tidak kondusif untuk berkarya”, ungkapnya. Di atas tanah Yogya, para seniman bisa bebas berekspresi meski dana minim.
Saya melanjutkan penelusuran ke Sogan Village. Memasuki teras, saya disambut oleh bangunan Joglo lengkap dengan gebyok kayu berukir cantik. Joglo ini oleh pemiliknya, Iffah Maria, disulap menjadi galeri batik dan kerajinan tangan. Batik tulis ini diberi cap Sogan batik, didesain secara eksklusif oleh iffah dan dikerjakan melalui teknik tulis. Tak heran harga jualnya juga premium. Saya selalu kagum dengan filosofi batik, terlebih pada kesabaran para perajinnya. Setiap detail batik mempunyai cerita sendiri, tak terkecuali batik Sogan.
Menyeberangi lapangan rumput, sekelompok ibu-ibu terlihat khusyuk membatik. Canting yang berisi malam panas menari-nari diatas kain bermotif. Diangkatnya sang canting dari wajan mini, disebul, lalu dioleskan kembali keatas kain. Telaten sekali. Salah seorang ibu menawarkan saya untuk mencobanya pada sepotong kain mini persegi empat. “ini bisa untuk sapu tangan kalau sudah jadi,” ujarnya lembut dengan logat jawa kental. Tangan saya menggigil saat menggoreskan canting ke kain. Saya berusaha untuk tidak berkedip saat membaca motif. Sudah jelas, membatik tidak mudah dan butuh kesabaran ekstra. Selang beberapa saat, sayapun menyerah.
Hampir 90 persen pekerja di sogan village adalah warga perkampungan Rejodani. Iffah memang sengaja ingin memberdayakan masyarakat setempat. Batik Sogan Village biasa digunakan sebagai kimono oleh masyarakat jepang. Selain belajar membatik, ditempat ini pengunjung juga bisa memancing di kolam pemancingan dan menjelajah kawasan rejodani dengan delman.
Saya menunggu sore di Sogan Village sambil menikmati wedang uwuh yang tersaji didalam poci berisi ramuan tradisional. Sayup-sayup terdengar gending jawa melantun memenuhi udara. Damai mengepung saya.

Setelah itu, saya melangkahkan kaki ke daerah Malioboro dengan Pasar Beringharjo di ujungnya. Meski mall-mall modern bermunculan di Yogyakarta, tapi beringharjo tak juga meredup. Pasar yang telah berusia ratusan tahun ini tak pernah melupakan kodratnya melayani rakyat kecil. Walau sudah beberapa kali dipugar, wajahnya selalu sama, becak dan andong menghiasi halaman depan pasar, sementara ibu-ibu berpakaian kebaya menggelar aneka dagangan, mulai dari batik sampai pecel.
SAYA KEMBALI KE DAERAH SELATAN, menuju rumah seni cemeti, galeri seni kontemporer yang disebut-sebut paling bergengsi di Yogyakarta. Galeri ini secara progresif mengadakan pameran dan mempromosikan karya seniman Indonesia dan asing sejak 1988.
Dari luar, cemeti bak rumah tinggal biasa, tak ada yang glamour kecuali cat tembok kuning yang mencolok dengan tulisan “Belanda Sudah Dekat”. Saya disambut pemilik galeri Nindityo Adipurnomo. Berbincang dengannya, saya jadi mengerti kenapa Cemeti dicap paling bergengsi. Galeri ini tak berdiri untuk meladeni pasar, namun untuk melayani dinamika berkesenian itu sendiri.
Saya mengikuti Nindityo merangsek ke ruang pameran yang berada di sisi belakang. Karya-karya seni Terra Bajraghosa yang berbicara tentang utophia teknologi melalui puing-puing piksel terhampar memenuhi ruang pamer. Kekuatan karya Terra terletak pada wacana yang diwartakannya, dan bagi Nindityo itu lebih penting daripada harga nominal karya itu sendiri.
Saya jadi lebih paham kenapa banyak seniman memilih tinggal di Yogyakarta, kota ini benar-benar memberi ruang dan apresiasi akan ide-ide, mengambil jarak dari komersialisasi yang dipusingkan oleh harga jual.
Saya juga sempat bertemu dengan Butet Kartaradjasa di kediamannya di gang Nusa Indah. Butet sang Presiden Guyonan nyeletuk: “Bisa menikmati kopi dan gorengan di pagi hari di rumah sangat mahal. Di jam ini di Jakarta, semua orang sudah terbirit-birit pergi ke tempat kerja, bermacet-macet di jalan. Bagi saya itu konyol.” Ia membahasakan yogya adalah habitat bagi orang “sejenis” dirinya. Iklim Yogyakarta yang kondusif untuk memproses suatu karya merupakan kemewahan yang enggan dia tinggalkan. Butet juga bercerita tentang proyek yang sedang digarapnya, Yogyakarta Biennale, sebuah hajatan besar bagi para seniman.
Fitrah Yogyakarta adalah menjadi kota budaya, disesaki ratusan seniman dan dijubeli penikmat seni. Tak butuh kocek tebal untuk memproduksi dan menikmati seni disini. Kesederhanaan inilah yang menjadi opium bagi para seniman untuk menetap, dan bagi para turis untuk berkunjung. Rasanya kini saya sudah bisa menjawab pertanyaan teman dari Hongaria tadi.

